June 15, 2024

Indonesia Adalah Kita, Pancasila

Pena7.com, Jakarta- Pasca reformasi menjadi tolak  ukur demokrasi. Pancasila jadi ukuran Indonesia sebagai nilai persatuan dan kesatuan. Tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Dari Presiden Gus Dur,Megawati,SBY sampai Jokowi,nilai Pancasila menjadi magnit bagi Indonesia berdaulat. Ruang politik menjadi longgar bagi keutuhan demokrasi yang masih perlu penataan untuk dijalankan.

Itulah, kenapa Indonesia ketika menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019,timbul nuansa perpecahan. Saling tuduh. Bukan Pancasilais. Atau sebaliknya.

Negara kita bedasarkan Pancasila. Bukan Negara agama. Tapi juga bukan Negara sekuler,begitu yang diungkapan Prof Dr N Drijarkara tahun 1859 (baca : kolom demi kolom Mahbud Djunaidi). Bukan juga sekuler, karena Negara memberi tampat bagi religi. Bukan juga agama,karena tidak mendasar agama tertentu.

Merujuk Demokrasi ekonomi yang bukan free fight liberalism. Bukan juga etatism. Juga bukan pula monopoli yang sangat merugikan masyarakat,itu kata GBHN. Jadi harus bagaimana ? Sosialis,religius.

Tentunya Demokrasi Pancasila,yang bukan liberal. Bukan terpimpin dan bukan juga diktatur. Dimana penyeleasaian masalah nasional haruslah musyawarah dan mufakat. Saling hantam agama itu tidak betul. Yang baik kerukunan beragama. Tapi tidak sinkretisme. Karena itu,berbahaya yang mencampuradukan segala rupa agama jadi satu. Dan menganggap agama itu sama belaka. Seperti petuah Hocking itu.

Tidak mungkin. Karena masing-masing agama itu punya sejarah sendiri-sendiri. Terikat pada hukumnya sendiri-sendiri. Jalan sintese. Bukan ambil sana ambil sini. Karena ukuran modernisasi bukan ukuran kalau bicara yes dan panantang-petenteng.

Ukuran modernisasi itu masalah mengubah mental. Dan menyelaraskan diri dengan keadaan dunia sekarang. Agar jangan sampai orang jalan kedepan kita jalang miring. Isitilah filsof C.Kluckhon ada 5 ciri-ciri konsep orang modern. -punya sikap positip terhadap hidup.-punya orientasi karya yang tinggi.-punya orientasi ke masa depan.-punya hasrat menguasai alam.-induvidualistis. Itulah nilai yang harus menjadi pemikiran dalam memberi makna seorang Negarawan.

Lepas setuju atau tidak setuju. Yang penting APBN. Apa yang dikatakan pengarang The Proper Study of Mankind, Stuart Chase,dalam karyanya : Clyde Kluckhohn, bahwa kalau seorang Negarawan merenung apa yang tersurat dalam Miror of Man. Mungkin bangsa ini dapat tenang menjalani kehidupannya.

Oleh :  Delly Muhajirin

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *