December 2, 2022

Usut Pencemaran Situ Kamojing dan Sungai Karang Gelam

Pena7.com, Karawang – Satgas Citarum Harum yang dibentuk Pemerintah tentunya bertujuan untuk melestarikan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dari sampah dan limbah pabrik, sehingga air dari Sungai Citarum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Sangsi pun sudah disiapkan bagi masyarakat yang buang sampah ataupun perusahaan yang membuang limbahnya ke Sungai Citarum, namun tetap saja ada perusahaan yang tidak patuh terhadap larangan tersebut dengan mencemari sungai sehingga berbahaya bagi kesehatan.

Akan halnya yang terjadi di Situ Kamojing dan Sungai Karang Gelam, berkat adanya pelaporan yang dilakukan oleh Babinsa Desa Kamojing, Kecamatan Cikampek, Serma Cecep Gian tentang adanya pencemaran sungai yang dilakukan oleh perusahaan yang telah membuang limbahnya ke Situ Kamojing dan Aliran Sungai Karang Gelam yang mengakibatkan aliran menuju Sungai Karang Gelam serta ekosistemnya, khususnya ikan yang mati akibat limbah tersebut.

Dalam keterangannya, Serma Cecep Gian menjelaskan, akibat pencemaran tersebut, banyak ikan yang mati, air terdapat buih-buih putih dan air berwarna kecoklatan serta berbau pewangi.

Sementara Danramil 0406 /Cikampek, Kapten Inf Suryadi, mengungkapkan, “Paska menerima laporan dari Babinsa saya lalu menugaskan Anggota sebagai petugas monitoring Citarum Harum untuk mengecek laporan pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah ilegal. Dan saya langsung mendatangi Kantor Sub Seksi Cikampek PJT II yang berada di Situ Kamojing untuk melakukan koordinasi dan meninjau langsung lokasi titik pembuangan limbah tersebut,” jelas Danramil.

“Dari hasil pengecekan langsung saya menemukan banyak ikan yang mati di sekitaran Situ Kamojing dan Aliran Sungainya, airnya berbau pewangi, berbuih putih dan berwarna kecoklatan,”tuturnya.

Dikatakannya juga kemungkinan sumber limbah tersebut dibuang di jalan Tol Jakarta – Cikampek Km 71.400 di saluran sungai dari arah kawasan BIC Purwakarta menuju Situ Kamojing yang diduga menggunakan mobil tangki.

Sementara menurut keterangan dari salah seorang warga yang juga sebagai penggarap lahan PJT II, Ita Sasmita pernah menemukan mobil tangki yang sedang membuang limbah, “Sering dibuang di tempat yang sama, 2 sampai 3 kali dalam sebulan, dan dibuangnya tengah malam dengan jenis limbah cair yang berbeda,” ungkap Ita. (Her)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *