October 2, 2022

Pilpres 2019 : Pertarungan Dua Putra Terbaik Bangsa

Pena7.com – Kita boleh kecewa pada Jokowi, boleh pula tak percaya pada Prabowo. Tapi kita harus akui, faktanya mereka adalah 2 orang putra terbaik bangsa saat ini.

Jokowi
adalah kisah nyata seorang rakyat biasa yang bisa menjadi manusia luar biasa. Impian banyak anak desa, doa dari semua orang tua untuk anaknya.

ini bukan sinetron dan dongeng, ini nyata, seorang anak pinggir kali, yg harus pindah rumah berkali-kali karena tak mampu bayar sewa dan juga terkena penggusuran dari angkuhnya kehidupan kota.

Beliau lahir dari anak tukang kayu, pembelajar keras yang akhirnya mengantarkan dirinya masuk ke jurusan kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu kampus terbaik yg tak semua orang mampu meraihnya.

Beliau bukan aktivis mahasiswa, tak punya nama di zamannya.

Jokowi memilih menepi dari politik kampus, ia lebih suka naik gunung di akhir pekan, hingga akhirnya secara bertahap merintis bisnis dan menjadi pengusaha mebel di Surakarta.
Ya doa jutaan orang tua, “bapak kuli, semoga kamu bisa jadi insinyur”.

Jokowi adalah kisah nyata perjuangan anak miskin yg mengangkat derajat keluarganya melalui pendidikan dan kerja keras.

Jokowi bukan kader asli yang dibesarkan partai, ia awalnya di minta menemani F.X. hadi rudyatmo (PDIP) yg enggan maju sebagai walikota Solo karena khawatir dengan isu agama dan memilih menjadi wakil Jokowi yang di prediksi lebih bisa diterima publik Solo karena seorang muslim.

Jokowi menghadirkan kepemimpinan gaya baru di kota Solo, berdialog dengan masyarakat yg akan di relokasi, menggusur dengan sangat manusiawi, bahkan dengan PKL di kirab layaknya festival budaya, di kawal satpol PP layaknya pejabat.

Tak ada kekerasan, pengggusuran itu dibuat menyenangkan.
Tak heran, ia menang mutlak dalam periode kedua ke pemimpinan nya di Solo. Kecemerlangannya dalam memimpin mengantarkan beliau menapaki jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta (2012) hingga menjadi Presiden RI (2014).

Prabowo
adalah putra mahkota dalam berbagai kisah.
Putra terbaik dalam segala aspek. kakeknya adalah pendiri bank negara indonesia (BNI), Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo, beliau juga Anggota BPUPKI dan Ketua DPAS pertama. Ayahnya adalah begawan ekonomi legendaris republik ini, Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, yang namanya di abadikan menjadi nama gedung di Kementerian Keuangan. Sumitro juga pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Menristek, Menteri Perindustrian dan Perdagangan di Era Soekarno dan Soeharto.

Soemitro juga terkenal sebagai kritikus yg berani dengan keras menentang kebijakan-kebijakan ekonomi Soekarno dan Soeharto yang dianggap tidak pro rakyat. Bahkan pernah menjadi buron ke luar negeri di masa pemerintahan Soekarno karena di anggap terlalu vokal dan berbahaya.

Saat menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Sumitro pernah “di diamkan” tak di sapa Bu Tien Soeharto selama setahun karena menolak memberikan hak istimewa dalam perdagangan.

Prabowo lulus sekolah menengah di usia 16 tahun, lebih muda dari sebayanya. Di usia 17 tahun, prabowo bersama aktivis legendaris soe hok gie mendirikan LSM Pembangunan, yang fokus pada pembangunan desa dan merupakan LSM Pertama di Indonesia.

Di tengah keluarga intelektual, ia justru memilih jalan berbeda menjadi prajurit bangsa. Prabowo adalah lulusan akademi militer tahun 1974.

Meski di militer, Prabowo tetap mewarisi tradisi intelektual ayah nya. Beliau terkenal sebagai tentara yang paling rajin membaca dengan koleksi buku yang sangat banyak dan menguasai 4 bahasa asing, yaitu bahasa inggris, perancis, belanda, dan jerman.

Prabowo berkali-kali di kirim mengikuti pelatihan dan kursus di luar negeri tahun 1974, 1975, 1977, 1981. Beliau juga pernah mengenyam pendidikan Counter Terorist Course Gsg-9 di Jerman dan Special Forces Officer Course di Fort Benning USA. Beliau bersama Putra Raja Yordania menjadi lulusan terbaik dari pendidikan militer yg di ikutinya di Amerika.

Percayalah, isu Jokowi akan membangkitkan PKI dan Prabowo akan mendirikan Khilafah hanyalah permainan buzzer untuk menakut-nakuti kita.

Jokowi jelas masih berusia 5 tahun saat PKI di bubarkan, ayahnya pun jelas bukan intelektual PKI, hanya tukang kayu yg tak tahu urusan politik PKI.

Prabowo, meski di identikkan dengan ABRI hijau dan sangat dekat dengan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) milik B.J. Habibie di tahun 1998, nyatanya ibu dan adik Prabowo adalah seorang nasrani. Prabowo dan ayahnya muslim, saat natal maupun lebaran, mereka merayakan bersama-sama. Begitulah keberagaman dan toleransi yg hidup di keluarga Prabowo.

Prestasi Jokowi dan Prabowo

Jokowi pernah di nobatkan sebagai salah satu walikota terbaik dunia, pun begitu dengan Prabowo yg mampu meraih banyak prestasi saat memimpin kopassus dan membuat kopassus menjadi salah satu satuan elit terbaik di dunia dan pasukannya memiliki kesejahteraan di atas rata-rata.

Jokowi sukses dengan Asian Games, kita semua dibuat terpesona dgn upacara pembukaan dan penutupan yg luar biasa. Tapi jangan lupakan bahwa medali terbanyak yg mengatrol peringkat Indonesia adalah cabor pencak silat yang dibina oleh prabowo sebagai ketua IPSI.

Akuilah, mereka berdua adalah putra terbaik bangsa saat inj. Hanya berbeda gaya bahasa, Jokowi yg orang Solo tulen khas dengan keramahan dan suara lembutnya, gaya yg santai dan banyak bercanda.

Kita semua tentu senang dengan gaya kepemimpinan yang asik dan merakyat. Beliau membawa gaya baru dalam definisi pemimpin di Indonesia.

Prabowo setengah Banyumas (Ayah) dan setengah Minahasa (Ibu). Banyumas memang ibarat Bataknya Jawa. Gaya Banyumasan lebih tinggi nada suaranya, sedikit ceplas ceplos dan terbuka di banding jawa bagian Joglosemar (Jogja Solo Semarang) dengan tata bahasa krama inggil.

Di tambah ibu yang dari Sulawesi dan latar bekalang militer.
Wajar gaya bicaranya tegas dan berapi-api. Tapi tentu kita semua bangga jika punya pemimpin yg mampu berorasi dengan lantang dengan bahasa inggris yg fasih dalam memperjuangkan palestina dan negeri tertindas lainnya di depan rapat PBB dan forum-forum Internasional.

Jadi, baik gaya yang santai atau pun berapi- api ini hanya masalah selera pemilih saja, yang terpenting adalah keberpihakannya pada rakyat.

Jika Jokowi bukan orang yang baik tidak mungkin dulu prabowo memperjuangkannya untuk maju sebagai Gubernur DKI, di mana dulu Megawati hampir tidak merestui, tapi Prabowo yang memperjuangkannya.

Sebaliknya, anda yang meyakini Jokowi adalah orang baik, artinya harus juga meyakini Prabowo adalah orang baik.

Karena munculnya Jokowi ke Jakarta tak lepas dari perjuangan Prabowo dan adiknya yang menyokong dana kampanye Jokowi.

Jadi, stop terbawa arus informasi yg menghanyutkan kita men jelek-jelekkan personal ke 2 Capres tsb.

Kita harus kritis terhadap kebijakan dan program para Capres, tapi bukan menjatuh kan personalnya.

Kritik kebijakan dan programnya, bukan personal nya atau latar belakang keluarganya.

Tugas kita berikutnya adalah mempelajari program yang di tawarkan dan mengenali siapa-siapa saja yg berada di balik Sang Capres pilihan. Karena kita telah sepakat keduanya orang baik, tinggal kita menilai orang-orang di sekitar mereka.

Oleh : Agus Taufiq

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *