July 19, 2024

Hadapi Tantangan Praktik Gray Zone Strategy, Seskoal Gelar Focus Group Discussion

Pena7.com – Sekolah Staff dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Tahun 2019 dengan topik “Tantangan Perkembangan Praktik Gray Zone Strategy Dalam Sengketa Laut China Selatan” bertempat di Pendopo Gedung Yos Sudarso Seskoal Cipulir Jakarta Selatan, Kamis, (02/05).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Komandan Seskoal Laksamana Pertama TNI Tatit Eko W, S.E., M.Tr(Han), mewakili Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Dr. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., D.E.S.D.

Hadir sebagai narasumber Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan Laksda TNI Sulistiyanto, S.E., M.M., M.Sc., P.S.C, dengan 5 pembicara yang terbagi menjadi dua sesi yaitu sesi pertama dengan pembicara Diplomat Pakar Laut Cina Selatan Drs. Mohammad Asruchin, M.A., dengan topik “Sejarah Penamaan dan Perkembangan Sengketa Laut Cina Selatan”, dan Dirjen Hukum dan Perjanjian Internasional Kemenlu Dr. Iur Damos Dumoli Agusman, S.H., M.A., dengan topik “Peran Indonesia dalam Penyelesaian Ketegangan Sengketa Laut China Selatan”. Selanjutnya pembicara pada sesi kedua yaitu Peneliti CSIS Dr. Kusnanto Anggoro dengan topik “Tantangan Praktik Gray Zone Strategy di Laut China Selatan dan Solusinya dari Perspektif Indonesia”, Asops Pangkoarmada I Kolonel Laut (P) Rudhi Aviantara, S.E., M.Si.,M.Tr (Han) mewakili Pangkoarmada I Laksda TNI Yudo Margono, S.E., M.M dengan topik “Pola Operasi di Laut Natuna Utara Menghadapi Perkembangan Praktik Gray Zone Strategy di Laut China Selatan” dan Dubes RI Untuk Argentina, Uruguay dan Paraguay pada tahun 2014-2017 Jonny Sinaga, S.H., L.LM., dengan topik “Tinjauan Terhadap Kapal Vietnam Yang Menabrakan Diri Pada KRI Tjiptadi-381”.

Danseskoal dalam sambutan yang dibacakan Wadan Seskoal mengatakan, kegiatan FGD yang dilaksanakan ini bertujuan untuk dapat memberikan gambaran dan solusi praktik Gray Zone Strategy secara komprehensif. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi asia, negara-negara kawasan telah meningkatkan kapabilitas militernya dengan menerapkan berbagai strategi untuk dapat menguasai dan memperkuat klaimnya baik melalui kegiatan ekonomi maupun militer.

Lebih lanjut dikatakan, praktik Gray Zone Strategy di era modern menggunakan sejumlah cara baru seperti perang siber, kampanye informasi dan penggunaan kekuatan sipil seperti coast guard, kekuatan maritim sipil. Analisis terhadap praktik gray zone yang dilakukan para ahli pertahanan dan akademisi telah melahirkan beberapa terminologi baru seperti small-stick diplomacy, salamy tactics dan juga konsep-konsep tentang tantangan, ancaman, maupun strategi penangkalan terhadap Gray Zone Strategy.

“Selain itu Gray Zone Strategy telah memburamkan batasan penggunaan kekuatan militer dan sipil, yang dapat menyebabkan instabilitas serta berdampak negatif terhadap keamanan maritim tidak hanya kawasan termasuk Indonesia,’paparnya.

Juga dikatakan bahwa sengketa Laut China Selatan sejauh ini tidak berdampak langsung terhadap Indonesia, namun wilayah ZEE Indonesia di kepulauan Natuna tumpang tindih dengan sembilan garis putus-putus yang diklaim China.

Turut hadir dalam acara tersebut yaitu Direktur Opsla Bakamla, Pejabat Utama Seskoal, perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Polairud, Bea Cukai, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Forum Kajian Pertahanan Maritim, Asosiasi Kemaritiman, para dosen dan perwakilan pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-57 TA.2019, serta undangan lainnya.

Kegiatan diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab serta pemberian cinderamata kepada para pembicara. (Red)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *