May 20, 2024

Sea Power Indonesia Di Era Geomaritim Indo Pasifik

Pena7.com – Pada kegiatan Penutupan Pendidikan Reguler Seskoal Angkatan ke-57 tahun 2019 yang dilaksanakan di Auditorium Jos Soedarso, Seskoal, Bumi Cipulir Jakarta Selatan, pada Kamis lalu (14/11).

Hadir pada kegiatan tersebut, Laksamana TNl (Purn) Prof. Dr. Marsetio, M.M.,yang merupakan Guru Besar UNHAN berkesempatan memberikan Orasi Ilmiah mengenai “Sea Power Indonesia Di Era Geomaritim Indo Pasifik”.

Dalam Orasi tersebut, dijelaskan Sea Power Indonesia yang mencakup semua potensi kekuatan maritime : armada kapal perang, armada niaga, industri perikanan, industri maritim, jasa maritim, infrastruktur maritime, masyarakat maritim, pariwisata maritim, budaya maritime dan penegakan hukum di laut, merupakan manajemen penggunaan dan pengendalian Iaut untuk kemakmuran bangsa.

Dalam konteks itu, Presiden Joko Widodo menetapkan lima pilar pokok sasaran Indonesia sebagai poros maritim dunia, yaitu : (1) pembangunan budaya maritime, (2) komitmen menjaga dan mengelola sumber daya laut, (3) mendorong pengembangan infrastrukiur dan konektivitas maritime, (4) diplomasi maritime dan (5) membangun kekuatan pertahanan mantim.

Namun, arah pembangunan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi nomor empat atau nomor lima dunia pada 2045 dihadapkan pada kondisi dinamis Lingkungan Strategis berupa pertarungan hegemoni Amerika Serikat dan China yang diwujudkan dalam Perang Dagang.

Disampaikannya bahwa China dengan kekuatan ekonominya juga berupaya menanamkan pengaruhnya di tataran global melalui OBOR/BRI dan memperkuat militernya untuk sewaktu-waktu dapat digerakkan melindungi kepentingan nasional China. Amerika Serikat merespon dinamika di lndo Pasifik dengan merangkul India dan mengubah komando militer Asia Pasifik dari US Pacific Command (US PACOM) menjadi US Indo-Pacific Command (USINDOPACOM).

“Selain itu, ada potensi konflik di Laut China Selatan akibat IX klaim nine dashed line China yang ditantang Vietnam, Filipina,Malaysia,Brunei dan Taiwan, sedangkan Amerika membantahnya dengan alasan FONOP,”urainya.

Menurutnya, Indonesia bukan claimant state tetapi memiliki masalah dengan China karena nine dashed line beririsan dengan ZEEI. Dihadapkan pada kondisi lingkungan strategis seperti itu Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo di KTT ASEAN ke-33,34 dan 35 menginisiasi pandangan bersama ASEAN tentang Indo-Pasifik dengan mengedepankan prinsip keterbukaan, inklusivitas, transparan dan penghormatan terhadap hukum internasional.

“Dihadapkan pada perubahan lingkungan strategis di Asia Pasifik, maka Sea Power Indonesia diperlukan sebagai manajemen penggunaan dan pengendalian Laut serta untuk mendukung diplomasi maritim Indonesia yang tahun 2020 antara lain tampil pada kegiatan Komodo Exercise, Kakadu Exercise, Rimpac Exercise dan Fleet Review 2020, merayakan 75 Tahun Indonesia merdeka,”kata Laksamana TNl (Purn) Prof. Dr. Marsetio di akhir Orasi Ilmiahnya. (Mal)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *