December 9, 2022

Mengetahui Benang Literasi Covid-19

Jurnalmetropol.com, Jakarta – Sebuah analisis yang dapat menjadi panduan sebuah tuntunan untuk mengedepankan Pengetahuan dan pengobatan bathin yang gundah, lantaran mewabahnya virus covid-19, atau lebih bahasa lebih kerennya virus corona.

Jurnalmetropol mencoba mengutip analisa dr Moh Indro Cahyono (ahli virus) dan pencarahaan agar lebih mengetahui tanpa mengabaikan kewaspadaan berlebihan.

Benang merah pada literasi, Rabu (1/4/2020), dikatakan Moh Indro Cahyono, bahwa kedudukan virus corona atau covid-19, adalah benda mati yang dapat hidup di media hidup. Dia tidak bisa hidup menempel apalagi memproduksi markas virusnya di benda-benda mati. Namun ada catatannya. Misalnya, ada orang yang sudah terinfeksi mengeluarkan droplet (cairan flu atau luda) lalu kena di baju, kain, atau meja maka dia tetap hidup selama droplet itu belum mengering. Kalao baju dicuci atau setidak-tidaknya mengering sendiri karena pengaruh lingkungan misalnya karena panas atau hembusan angin, maka virusnya akan mati. Begitupun di meja, kursi, lantai, karpet dan sejenisnya. Kalau sudah mengering ya sudah virusnya akan mati.

Juga virus itu, tidak bisa hidup di udara. Dia hanya jadi butir-butir kristal saja. Semua jenis virus. Mau virus flu, TB, paru dan lain-lain. Bagaimana dengan berjabat tangan? Sama seperti penjelasan nomor satu. Walau tangan ini termasuk bagian hidup tapi selama dropletnya kering, dibersihkan maka virus pun akan mati.

Karena virus hanya bisa masuk lewat tiga jalur yakni mata, hidung dan mulut. Maka jika selesai berjabat tangan dianjurkan membasuhnya dengan antis, sabun, air panas, asing atau cairan cuka/asam.

Virus juga tidak bisa hidup di air panas, air asing, cuka, atau cairan asam. Maka jika sudah terinfeksi segera konsumsi vitamin E (brokoli, kelor) dan vitamin C (jeruk, mangga).

Beliau juga katakatan, terinfeksi atau dinyatakan positif berpeluang sembuh total, bagi mereka yang ketahanan tubuhnya kuat, tidak memiliki riwayat penyakit bawaan seperti paru, TB, hippertensi, asma, kanker dan tumor.

Sedangkan begi anak-anak muda atau yang ketahanan tubuhnya kuat yang sudah dinyatakan positif cukup treatment (perlakuan) mandiri di rumah. Karena usia produktif antibodinya berproduksi 2-3 kali lipat dibandingkan dengan manula. Anti bodi pada hari ke 4-5 akan keluar untuk menyerang virus. Untuk menekan rasa stres bagi yang sudah positif cukup mengonsumsi vitamin, dan antibiotik. Jangan ke RS yang sudah ditentukan karena itu diperuntukan bagi mereka yang produksi antibodinya rendah.

Jangan stres dan panik. Karena jika stres dan panik maka antibodinya akan lambat berproduksi. Dengan itulah kita mudah terserang. Apalagi stres itu hanya membuat psikosomatik (kondisi jiwa yang tersugesti) lalu membuat tubuh lemah.

Sedangkan Virus yang dikatakan bertahan hidup di tempat basah lebih dari 9 jam itu hoaks. Di panci, di kardus, di udara, di gagang pintu, di aluminium dan lainnya itu HOAKS. Sekali lagi virus tidak dapat hidup di benda-benda mati. Jika dicurigai ada droplet di sana maka cukup dibersihkan saja.

Pasien yang terinfeksi berpeluang sembuh seperti orang yang kena flu karena status positif itu sementara.

Mantan pasien positif atau yang sudah sembuh berpeluang kecil untuk terinfeksi kembali. Asumsinya, di dalam tubuh kita ini ada yang namanya sel memori. Jika dia terinfeksi kembali maka masa inkubasinya tidak selama waktu awal terifeksi. Hanya 24 jam (1 hari). Karena sel memorinya akan menampilkan data bawah orang ini pernah terinfeksi. Sehingga sehari kena besok atau paling lambat dua hari sudah sembuh lagi.

Yang paling penting dengan adanya covid-19 ini semua orang jadi sadar sehat Tumbuhkan rasa optomisme dan pengetahuan tentang virus. Jangan buat asumsi salah-salah yang membuat kepanikan.

Oleh : Delly Muhajirin, Redaktur Pelaksana Jurnalmetropol.com

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *