September 29, 2022

KKSS Adakan Kuliah Daring, Hadirkan Prof. Nasar Sebagai Narasumber

Jurnalmetropol.com – Departemen Kerohanian Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPP KKSS) kembali mengadakan kuliah dan dialog interaktif keislaman secara online (daring), menghadirkan Bapak Prof. Dr. M. Nasaruddin Umar, MA., (Prof. Nasar) Anggota Dewan Pakar BPP KKSS dan Imam Besar Masjid Negara Istiqlal, diikuti sebanyak 138 partisipan, pengurus dan warga KKSS dari dalam dan luar negeri, pada Rabu malam (29/4) pukul 19.30 WIB.

Ketika membuka kuliah Ramadhan daringnya, Prof. Nasar mengajak seluruh Pengurus dan Warga KKSS membacakan Surat Al-Fatihah kepada pendiri dan pengurus KKSS yang telah wafat, “karena merekalah yang telah mendirikan dan berkorban untuk membesarkan KKSS sehingga kita dapat mewarisi organisasi besar ini di seluruh Indonesia dan bahkan sudah ada beberapa di mancanegara”.

Berikut ini beberapa poin isi kuliah daring Prof. Nasar:

Pada kuliah daring tersebut, Prof. Nasar menyampaikan bahwa kita ini sungguh sangat penting memiliki anak-anak biologis yang shalih, termasuk anak-anak adopsi (angkat) yang dapat menjadi anak-anak spiritual. Merekalah kelak dapat setiap saat mengirimkan doa kepada kita setelah kita wafat; dalam khazanah Bugis-Makassar, dikenal istilah matanre siri’ (harga diri, keadaban, atau muru’ah, bahasa Arab). Artinya, orang Sulawesi Selatan itu sangat menjunjung tinggi yang namanya mappakeade’; dulu waktu seperti saya masih berumur anak-anak, di kampung, kita sangat hormat kepada kedua orang tua atau guru-guru kita. Gerakan atau tatapan mata saja ibu-bapak kita, sudah bisa dipahami perintahnya dan kita tidak rela guru ngaji (ulama) kita ke sumur mengambil air, mereka diangkatkan air agar bisa mandi ke atas rumahnya.

Disampaikannya bahwa ini semuanya dapat disebut mappakeade’; dalam Islam ini kita sudah mengenal ukhuwah (persaudaraan) islamiyah (antar-sesama mulsim; ukhuwah wathaniyah (sebangsa), dan ukhuwah basyariyah (sesama manusia). Penting ditambahan satu ukhuwah lagi, ukhuwah makhlukiyah (hubungan baik dengan sesama makhluk Allah) karena orang-orang yang menjaga dan membina hubungan baik dengan alam, tidak akan diganggu oleh alam, termasuk tidak ada virus Corona; dalam Lontarak dikisahkan bahwa orang-orang tua kita dahulu itu telah membina hubungan baik dengan alam. Itu bukan musyrik. Mereka dikenal sebagai “pananrang” atau pawang hujan misalnya. Mereka bisa mengetahui waktu yang tepat untuk memulai bercocok tanam agar padi tumbuh subur atau mengenal waktu yang tepat sebelum melaut.

Salah satu kisah menarik orang Bugis yang mengenal waktu baik berlayar, telah ditulis di buku “Ekspediri Phinisi Nusantara, Pelayaran 69 Hari Mengarungi Samudera Pasifik.” Kisah tim ekspedisi yang membawa kapal Pinisi dari Makassar, Jakarta ke Vancouver, Kanada; etnis Bugis dikenal memiliki genetika sebagai orang-orang cerdas dan pemberani, tidak mengherankan jika mereka dapat menjadi pemimpin di mana-mana, di zaman kerajaan dahulu kala hingga hari ini di Nusantara.

Ini telah diakui oleh Denys Lombard, peneliti dari Perancis, yang telah menulis buku empat jilid; Almarhum Prof. Dr. Andi Zainal Abidin telah meneliti dan menemukan ada kesamaan etos kerja orang Jepang dan orang Bugis. Keduanya memiliki spirit untuk maju dimana pun mereka berada karena kita patut bersyukur sebagai etnis Bugis-Makassar;  untuk menjaga kesinambungan genetika generasi orang-orang Bugis di tingkat nasional misalnya, KKSS perlu ikut memikirkan cara menghadapi tantangan 20 tahun ke depan, termasuk mengidentikasi potensi-potensi lokal orang KKSS; bulan Ramadan ini adalah bulan yang patut diketahui sebagai bulan kemenangan umat Islam.

Prof. Nasar juga menyampaikan bahwa banyak peristiwa besar terjadi di bulan Ramadan, misalnya, Al-Qur’an diturunkan; Nabi Muhammad Saw diwisuda sebagai Rasul Allah; Universitas Al-Azhar didirikan di Mesir; Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945; dan lain-lain; salah satu tokoh Islam yang patut dikenal, memiliki empat keahlian adalah Ibnu Rusyd. Dalam riwayat hidupnya disebutkan, di pagi hari ia membuka praktik tabib (dokter ahli bedah) dan telah menulis buku kedokteran; di siang hari menjadi filosof, membaca, menulis, dan menafsirkan pikiran-pikiran filosof Yunani, terutama Aristoteles; di sore hari ia menjadi qadhi (ahli/ulama fiqih), menulis kitab fiqih; dan di malam hari, ia menulis dan beribadah sebagai seorang sufi atau ahli tasawuf.

Acara kuliah daring ini dipandu oleh Bapak Prof. Dr. Awaluddin Tjalla dan diawali sambutan dan ditutup doa oleh Bapak Muchlis Patahna, Ketua Umum BPP KKSS, dan sebagai host, Dr. Abdul Muid Nawawi. MSM. (Humas KKSS/Red)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *