December 2, 2022

Sanksi Tegas Jadi Solusi Tangani Penyebaran Covid

Jurnalmetropol Jakarta : Dalam masa Pandemi covid 19 beberapa bulan yang lalu, virus korona muncul  dan menjadi booming, saat itu pula segala upaya dilakukan oleh semua pihak dalam menurunkan dan membatasi penyebaran pandemic Covid -19

Sejak semua orang di paksa untuk mematuhi segala ketentuan physical distancing , beberapa negara bahkan memberikan sanksi bagi para pelanggar kebijakan diatas. Pergerakan orang dari satu daerah ke daerah yang lain menjadi perhatian  dan benar benar dicegah agar virus tidak cepat berpindah tempat.

Hal ini dimaksudkan agar virus tidak mempunyai rumah baru untuk di jangkiti, upaya ini di sebut dengan istilah lockdown. Lain halnya namun serupa dalam penerapannya, di Indonesia lebih dikenal dengan istilah Pembatas Sosial Berskala Besar (PSBB) juga, yang pada dasarnya agar kurva pandemic covid-19 jangan sampai terus menerus meninggi sehingga akan sulit untuk menurun atau melandai.

Sebuah tulisan dari Tomas Mayo dijelaskan bahwa periode ini disebut dengan istilah ‘the hammer’, mengapa disebut  demikian karena segala sesuatu upaya yang dilakukan masyarakat, pemerintah bersifat tegas bahkan sampai bersifat memberikan sanksi keras.

Hal seperti ini  dianalogikan sebagai kurva yang terbuat dari besi yang melengkung keatas, agar besi tersebut bisa lurus Kembali maka diperlukan tekanan dari atas  dengan cara memukul dengan palu atau the hammer.

Pertanyannya sampai kapan kondisi the hammer akan terus berlangsung. Pertanyaan berikutnya apa yag terjadi setelah berkurangnya pandemic covid-19? Apakah keadaan akan kembali normal?

Pertanyaan pertanyaan ini telah di jawab oleh Tomas Mayo.

Paska covid-19 tidak semudah dan semulus yang dibayangkan banyak orang. Mengapa ? karena kehidupan manusia kedepannya akan dipenuhi dengan jalan yang tidak mulus , goncangan ekonomi, jalan terjal yang berkerikil  dan banyak lobang akan terus berlangsung.

Disatu sisi aturan yang sudah dibuat ibarat polisi tidur yang terlalu tinggi dijalan mulus sehingga menghambat lajunya jalan kehidupan . Ibarat sebuah tarian dengan berjingkrak, maju mundur, bergoyang kekiri dan ke kanan. Ritme kehidupan ini di ibaratkan  oleh Tomas seperti orang yang sedang berdansa (the dance).

Ilustrasi kehidupan the dance pada paska pandemic covid-19 adalah seperti perubahan pola hidup manusia sebelum terjadi pandemic.

Masih berlakunya kehidupan menjaga physical distancing, pola hidup bersih , menggunakan masker dan menghindari kerumunan orang serta lain lain masih terus berlangsung.

Kehidupan benar benar dikatakan normal sampai benar benar ditemukan sebuah vaksin yang dapat menyembuhkan  dan menangkal covid-19.

 

Penulis :  Rita Satria S.E.,M.M

(Dosen Program Studi Manajemen S1 Fakultas Universitas Pamulang)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *