Fri. Feb 26th, 2021

Sutradara Roy Wijaya, Bongkar Dapur Film di Musim Pandemi

Jurnalmetropol Jakarta – Nasib para pekerja industri film disebut Sutradara Film, Anggy Umbara sangat kritis seiring dengan berhentinya produksi dan penayangan film di masa PSBB, tambah lagi seluruh bioskop masih tertutup.

Sementara itu menurut Hanung Bramantyo, dalam menghadapi masa sulit ini, maka industri film hanya bisa mengharapkan dukungan pemerintah dalam mempersiapkan protokol baru sebagai panduan agar industri dapat terus hidup di tengah pandemi.

Sedangkan Sutradara Film, Roy Wijaya, mengatakan pandemi COVID-19 memberikan guncangan yang besar terhadap industri perfilman Indonesia, termasuk dalam model produksi film yang harus memprioritaskan protokol kesehatan, sehingga berbagai produksi film banyak terhenti.

Untuk itu pihaknya mengundang para tokoh dan para praktisi Film, dalam membedah berbagai persoalan untuk Film Indonesia di masa yang akan datang. Seperti apa langkah pelaku industri film dalam menghadapi kondisi sulit dimasa pandemi ini?

“Diskusi antar Sineas ini sangat penting, karena pandemi ini bagaikan halilintar di siang bolong. Sebelum pandemi ini terjadi, perfilman Indonesia sedang mengalami tingkat pertumbuhan sangat tinggi yakni 20 persen per tahunnya, namun tiba-tiba harus rem mendadak dan semua berhenti,” ungkap Roy di Jakarta, Selasa 22 Des 2020.

Roy Wijaya menegaskan bahwa pandemi COVID-19 menyebabkan produksi dan distribusi film terganggu. Ada unsur ketidakpastian menjadi masalah utama yang mengguncang industri perfilman Indonesia, karena tidak ada yang mengtahui sampai kapan pandemi akan berakhir.

“Langkah langkah ini harus di bahas secara komprehensif bersama pemerintah dan pelaku Film, makanya dalam diskusi ini saya mengundang para Sutradara dan Produser, agar kita sama sama melihat bagaimana prospek film Indonesia ke depan,” urainya.

Diskusi dan Syukuran Tahun Baru 2021 yang akan di helat di Studio Ezy TV bersama para Siswa Ezy Pratama Akademy, hari Minggu 3 Januari 2021, merupakan langkah strategis dalam mengungkap berbagai persoalan dalam mengungkap rumitnya produksi film di Indonesia, sekaligus sebagai pembelajaran dan pengalaman terbaik bagi siswa Ezy Pratama Academy, dalam memulai kembali di masa adaptasi kehidupan baru (AKB) bersama pandemi COVID-19, kata dia, banyak hal yang harus disesuaikan, diperhatikan dan dilakukan, terutama berkenaan dengan prioritas protokol kesehatan dalam masa produksi film.

Dalam masa pandemi COVID-19, kata Roy, produksi film tidak bisa selamanya berhenti. Untuk itu, harus ada adaptasi dan perubahan yang dilakukan. Satu yang harus dipikirkan, katanya, adalah protokol kesehatan sangat melekat dengan desain produksi. Itu berbicara banyak aspek, di antaranya jumlah orang atau kru, jenis adegan, protokol yang harus dilakukan, dan berbagai desain ulang sebelum pengambilan gambar.

Bahkan, pihaknya harus mengalokasikan dana tambahan khusus untuk melakukan protokol kesehatan selama kegiatan produksi film. “Kita harus menyisihkan dana tambahan khusus protokol kesehatan, seperti sebelum produksi semua kru harus menjalani tes PCR,” katanya.

Di pihaknya, semua kru wajib mengikuti uji usap sebelum kegiatan produksi film, bahkan setiap hari selama kegiatan produksi film atau pelatihan akting berlangsung. Misalnya, dengan kru 90-100 orang, maka setiap hari ada sekitar 10 orang yang wajib ikut tes usap dengan metode PCR. (Red)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *