December 9, 2022

Playing Victim dalam Sejarah Islam

Foto: Ketua STIDKI NU Indramayu, Supendi Samian

Jurnalmetropol.com – Playing victim merupakan perilaku yang toxic ( beracun), terutama jika digunakan untuk memanipulasi seseorang. George K.Simon (1996) dalam In Sheep’s Clothing: Understanding and Dealing with Manipulative People menulis bahwa manipulator sering menampilkan diri sebagai korban dari suatu keadaan atau tindakan orang lain. dengan tujuan untuk mendapatkan belas kasihan atau simpati.

Playing Victim ini menjadi  dunia baru sebagai kepentingan politik dan sarana usaha, yang mampu menghipnotis ruang publik dan masa, untuk terbawa pada ruang drama kebohongan, adu domba dan Emosi agama Keagamaan serta kebencian golongan  untuk medapatkan Empati dalam bentuk donasi material, dan tidak peduli apa yang terjadi, tampaknya selalu ada seseorang yang memperlakukan mereka dengan buruk. Drama ini biasanya hanya diceritakan dari perspektif mereka sendiri, sementara orang lain berada di pihak yang sepenuhnya salah. Mereka menolak untuk bertanggung jawab dan mungkin memutarbalikkan fakta untuk keuntungannya sendiri.

Di era digital Virus Racun playing victim berkembang biak secera pesat yang dimungkinkan tidak terdeteksi, dan masuk produk high profitable dan bisnis unggulan tanpa pelaporan dan pajak, sehingga bermunculan  Even organizer ( EO) gelap dengan pergerakan yang masif dengan simpul – simpul yang terkonekting dan terintegrasi

Pergerakan playing victim sukses pada negara – negara berkembang yang  berbasis Agama dan suku – suku, termasuk Indonesia,  sebagai market unggulan  dalam melakukan multi level marketing Playing Victim, kepekaan dan kecerdasan sosiologi kultur dan tidak mengikuti alur drama kebohongan dan kemunafikan sebagai pondasi dan kekuatan untuk tidak terjebak oleh gerakan playing victim yang menyesatkan dan merusak nilai – nilai Agama dan kemanusian yang  menjadi habit prilaku teroris

Di masa Rasulullah SAW peristiwa yang bisa dikategorikan playing victim dilakukan oleh Banu Ubairik. Sebagaimana kisah yang disebutkan dalam Sunan Tirmidzi no. 2962 (versi Maktabatu al Ma’arif no. 3036) dari Qatadah bin Nu’man dan dinilai hasan oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Banu Ubairiq melemparkan tuduhan kejahatan pencurian yang dilakukannya kepada Labid bin Sahal seorang yang saleh.

Rasulullah SAW lantas menegur Qatadah, “Engkau mendatangi keluarga yang mereka sebut muslim dan baik, lalu engkau menuduh mereka mencuri tanpa kepastian dan bukti.

Tak lama kemudian turunlah Al-Quran, surat An-Nisa’ ayat 105-113. Kisah ini pun dikutip dalam beberapa kitab tafsir, seperti Tafsir Ibnu Katsir karya Syekh Imam Al-Hafiz Imaduddin Abul Fida Ismail ibnul Khatib Abu Hafs Umar ibnu Katsir.

Ayat 105-106 berbunyi, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepada kamu dengan membawa  kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Oleh: Supendi Samian (Ketua STIDKI NU Indramayu

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *