September 29, 2022

Transisi Etika Sosial dalam Bermasker Era Pandemi

Foto: Ilustrasi **

Jurnalmetropol.com, Ciputat – Sudah hampir dua tahun berlalu Covid-19 mendarat di bumi tanah air tercinta kita berbagai upaya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pun yang dilakukan pemerintah tak kunjung usai juga.

Aktifitas sosial yang sempat rehat atas himbauan pemerintah kini berlanjut kembali karena kepenatan masyarakat akan kebutuhan ekonomi yang kian hari kian menurun khususnya masyarakat golongan bawah dan menengah.

Ditengah kondisi pandemi masyarkat kini memaksakan diri untuk beraktifitas kembali yang semula dijalaninya dengan menaruh harapan agar tetap memenuhi kebutuhan hidupnya demi keluarga tercintanya.

Upaya pemerintah dengan slogan 3M (Mencuci tangan, Memakai Masker dan Menjaga jarak) nampaknya menjadi hal wajib ketika beraktifitas diluar rumah inilah hal baru yang akan menjadi budaya di sosial.

Dulu sebelum pandemi memakai masker hanya untuk orang sakit atau digunakan saat mengendarai roda dua akan tetapi di era sekarang lebih dari itu, bahkan ketika memasuki suatu instansi kita ditolak tidak diperbolehkan masuk jika tidak menggunakan masker.

Penulis mempunyai pengalaman buruk ketika di salah satu acara organisasi kebetulan pada saat itu sebagai panitia yang menyiapkan konsumsi, ketika menyuguhkan jamuan ke para tamu undangan disela-sela acara saya ditegur oleh senior karena tidak memakai masker.

Beliau kemudian mengatakan, di era saat ini ketika berhadapan ke yang lebih tua tanpa memakai masker dianggap tidak sopan dan tak beretika dari situ penulis menyadari bahwa ada transisi budaya di era pandemi ini.

Lantas bagaimana dengan masyarakat di pelosok pedesaan yang menganggap aneh ketika memakai masker?
Penulis menanggapi bahwa menurut mereka masker hanya digunakan untuk orang sakit lagipula aktifitas masyarakat di pedesaan tersebut jangakuan aktifitasnya tak luas maka mereka beranggapan bahwa aman dan biasa saja namun tetap waspada.

Dari sini penulis menyimpulkan bahwa bermasker bukan hanya mengantisipasi penyakit yang menular saja, melainkan sudah menjadi etika dan budaya di masyarakat umum ketika beraktifitas diluar rumah. Bahkan akan menjadi warisan budaya dari peristiwa Covid-19 yang diingat oleh semua orang.

Oleh: Sanwani Kader Himpunan Mahasiswa Banten (HMB Jakarta)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *