Mon. Oct 18th, 2021

Bupati Hendy Dorong Petani Gunakan Bahan Hayati sebagai Pengendali Hama Tanaman

Foto: Bupati Jember Hendy Siswanto turun ke sawah semprotkan pestisida hayati

Jurnalmetropol.com – Bupati Jember, Hendy Siswanto mendorong petani agar menggunakan bahan hayati dalam pengendalian hama tanaman. Hendy Siswanto turun langsung ke sawah menyemprotkan agensi pestisida (pestisida cair berbahan dasar hayati) ke tanaman padi anggota Kelompok Tani Bina Tani Desa Lengkong Kecamatan Mumbulsari, Jember, Kamis (14/10/2021).

Kabupaten Jember saat ini sedang menggalakkan Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berbasis hayati. Secara seremonial dilangsungkan di Desa Lengkong Kecamatan Mumbulsari bersama Kelompok Tani Bina Tani pimpinan Supardi.

Kepada awak media, Bupati Hendy memuji inovasi dan kreatifitas petani. “Petani kita punya kreasi membuat obat sendiri untuk tanaman padi dari tanaman hayati,”ucap Hendy usai menyemprot.

“Insyaallah sudah dicoba, kita tunggu hasilnya seperti apa. Saya mendapat informasi hasilnya keren sekali,”kata Hendy.

Ia berharap agar temuan pestisida hayati dikembangkan terus dan dibagikan ke Gapoktan di seluruh Jember yang jumlahnya ribuan.

Sementara itu Plt Kadis Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan (DTPHP) Sudarmaji lewat Koordinator Penyuluh Kecamatan Ajung (meliputi Ajung, Jenggawah dan Mumbulsari) dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP), Eko Adi Nugroho
menjelaskan secara teknis pestisida hayati.

Foto: bahan dasar (pestisida hayati) sebelum dikembangbiakkan dengan media cairan kentang dengan proses fermentasi menggunakan larutan PK (KNO4)

“Organisme Pengendali Tanaman (OPT) berbasis hayati berupa cairan organik yang disebut agensi hayati yang berfungsi sebagai pestisida hayati untuk mengendalikan hama (organisme) tanaman (khususnya padi),”jelasnya.

Lanjutnya disampaikan bahwa bahan dasarnya berupa cairan pestisida hayati (paenibacillus Polymyxa atau bio organik) yang dikembangbiakkan lewat media berupa cairan dari kentang (digodok diambil airnya), minyak goreng, gula, yang difermentasikan dengan larutan KNO4 (Larutan PK) kemudian didiamkan dalam kurun waktu kurang lebih 3-4 Minggu.

“Dalam penggunaannya (sebagai pengendali pengganggu tanaman), komposisi 300 ml berbanding 14 liter air disemprotkan ke tanaman padi. Pestisida tersebut bisa menekan dan membunuh organisme pengganggu tanaman seperti, hama wereng, kepik, ulat hingga jamur yang merusak daun dan batang padi. Kelebihan pestisida hayati itu, biaya murah dan ramah lingkungan,”paparnya.

Eko Adi Nugroho juga menjelaskan agensi hayati lainnya yang disebut PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).

Larutan berbahan dasar akar bambu direndamkan dalam air matang dicampur gula (dingin), trasi dan didiamkan selama 3-4 hari. Setelah terjadi proses fermentasi (ditambahkan katul juga) PGPR berguna untuk memperbaiki kualitas tanah dengan membunuh jamur (yang tidak baik). Ketika tanah dalam keadaan sehat maka bisa menyerap hara yang maksimal sehingga bisa memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.

Eko Adi Nugroho bersama Kelompok Bina Tani telah mencoba ramuan herbal itu ke beberapa lahan selama hampir 2 tahun. Pada awal musim terjadi penurunan hasil panen karena masih masa transisi. Tetapi setelah 2 tahun berjalan atau 8 musim tanam menunjukkan peningkatan hasil panen dengan kualitas padi bagus serta kesuburan tanah meningkat dengan biaya lebih rendah dibanding menggunakan pupuk kimia.

Pemkab Jember, menurut Bupati Hendy sedang merancangkan pembangunan pabrik pupuk kimia. Peralihan metode tanam menggunakan pengendalian hama berbahan kimia ke hayati tidak bisa langsung tetapi membutuhkan waktu transisi yang agak lama. Dengan demikian dukungan pupuk ataupun pestisida kimia masih tetap diperlukan untuk mempertahankan produksi.

Kabupaten Jember sebagai lumbung padi nasional akan tetap diupayakan oleh Pemkab bersama Gapoktan-Gapoktan tetap konsisten memenuhi kebutuhan lokal maupun nasional.

(Sigit)

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *