Thu. Dec 2nd, 2021

Kondisi Kekinian Pasanggrahan BTW, Saksi Sejarah Kemerdekaan RI

Jurnalmetropol.com, Bangka Barat – Pasanggrahan Banka Tin Winning (BTW) atau Roemah Persinggahan menjadi saksi sejarah Kemerdekaan RI. Bangunan yang kini menjadi cagar budaya sekaligus museum ini dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1827 yang berfungsi sebagai Gedung Pengadilan (Landraad).

Lokasi museum berada di Mentok, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Keberadaan Landraad Mentok di Abad 18 tercatat dibuku : Nederlandsche Jaarboeken – regtsgeleerdheid en wetgeving – 208….c. Banka.

Tahun 1851 bangunan bersejarah yang terbuat dari material kayu ini dikelola Perusahaan Pertambangan Timah Banka (Banka Tinwinning) selain itu juga berfungsi sebagai tempat penginapan para karyawan Timah BTW.

Pada 11 Februari 1897, gedung ini sempat menjadi tempat pengasingan Pangeran dari Paku Alam bernama Kanjeng Pangeran Hario dari kesultanan Jogja yang menentang perintah Belanda saat itu. Kanjeng Pangeran Hario RM.

Pakuningprang diketahui pernah ditugaskan Belanda untuk berperang melawan pasukan Aceh dalam Perang Aceh, namun Pangeran justru berbalik berpihak kepada pasukan Aceh untuk melawan Belanda. Akhirnya dia ditangkap dan ditahan di gedung Landraad Mentok, Pemerintah Kolonial Belanda juga melarangnya untuk berhubungan dengan masyarakat Mentok. Kanjeng Pangeran Hario R.M Pakuningprang wafat pada 18 Agustus 1897.

SEJARAH PENGASINGAN di PASANGGRAHAN BTW

Pada 6 Pebruari 1949, Bung Karno dan H. Agus Salim di Pengasingan Prapat dijemput dengan pesawat terbang Katalina jenis Ampibi dan mendarat diatas air sekitar pukul 10.00 WIB di Pelabuhan Pangkal Balam. Kedua Tokoh Bangsa ini langsung dijemput dengan perahu kecil, tampak Bung Karno dengan pakaian setelan abu-abu dan peci hitam keluar dari dalam pesawat lalu menaiki perahu, kemudian disusul Haji Agus Salim dengan mengenakan pakaian setelan putih serta mantel abu-abu bertongkat, berkacamata dan dengan peci oke khas buatan sendiri.

Kedua tokoh bangsa ini langsung dibawa ke Menumbing, mereka tiba sekitar Pukul 13.00 WIB. Bung Karno dan Agus Salim tiba di Pasanggrahan Menumbing untuk berjumpa dengan Bung Hatta guna membicarakan permintaan B.F.O, dihari itu juga rapat selesai.

Sebenarnya, Bung Karno dan Agus Salim diperbolehkan kembali ke Prapat, tetapi atas keputusan rapat mereka diminta untuk tetap di Bangka, untuk memudahkan menghadapi situasi perkembangan politik. Namun pada keesokan harinya Bung Karno, mengajukan pindah ke Pasanggrahan Banka Tinwinning di Mentok dengan alasan memiliki penyakit asma tidak tahan akan dinginnya puncak menumbing, permintaan tersebut dikabulkan dan Bung Karno dipindahkan ke Pasanggrahan BTW bersama Agus Salim, Mr. Moch. Roem dan Ali Sastroamidjojo.

DARI MENTOK UNTUK INDONESIA

Pengasingan Tokoh Nasional Republik Indonesia ke Mentok Bangka, mengundang perhatian Dunia, Komisi PBB untuk Indonesia disebut United Nasition Commission for Indonesia (UNCI) selalu mondar-mandir ke Pulau Bangka guna melakukan perundingan dengan Bung Karno dan Bung Hatta beserta kabinetnya yang diasingkan di Mentok.

Di ruang makan utama Pasanggrahan BTW menjadi ikon penting membicarakan bahan perundingan genjatan senjata (caese fire) serta persyaratan atau tuntutan kepada Belanda agar perundingan ke depan harus disaksikan oleh Badan PBB bernama UNCI. Ini merupakan awal dari perjuangan Diplomasi agar diakuinya kedaulatan RI oleh dunia dan disinilah awal perjuangan pengakuan kemerdekaan penuh itu tercapai, tanpa perjuangan diplomasi yang dikenal dengan nama Travel Bangka ini, Indonesia sulit merdeka.

Presiden Soekarno pernah berkata ;
“Kompromi terakhir dari persetujuan Roem Roijen berlangsung dimeja dapurku, di rumah Instansi milik pertambangan timah
dimana aku diasingkan”.

Selain itu, tempat ini juga merupakan tempat diserah terimanya Surat Kuasa kembalinya Kepemerintahan RI ke Yogyakarta dari Soekarno kepada Sri Sultan hamengkubowono IX pada Juni 1949.

Surat kuasa itu dikonsep oleh Bung Hatta di Pasanggrahan Menumbing dan diketik oleh Abgul Gafar Pringgodigdo. Penyerahan Surat Kuasa itu disaksikan oleh Bung,Hatta, Mr. Roem, dan Ali Sastroamidjojodi dihari itu juga..

Kini seiring berjalannya waktu, kondisi bangunan yang menjadi saksi sejarah Kemerdekaan Indonesia ini banyak mengalami kerusakan, di bagian atas dan atap ruangan pun terlihat memprihatinkan, terlebih saat hujan turun menjadi langganan alami kebocoran yang menyebabkan genangan air dibeberapa titik ruangan.

Ramzi Ramadhan Putra salah seorang PHL Disparbud setempat yang bertugas menjaga Pasanggrahan, mengungkapkan bahwa pada 2013 lalu bangunan cagar budaya tersebut mengalami perbaikan dengan menghabiskan anggaran sebesar Rp 1,2 milyar.

“Saya menjelaskan bahwa pada tahun 2003 Gedung Pasanggrahan ini direnovasi dengan dana kurang lebihnya Rp 1,2 milyar,”kata Ramzi saat diwawancarai awak media di pelataran museum, Senin (1/11/2021).

Bangunan tua tersebut sempat direnovasi hingga dipugar beberapa kali secara berkala yang menghabiskan dana rata- rata diangka Rp 1 miliar

Menurut Ramzi pengerjaan perbaikan Gedung Cagar Budaya yang berlokasi di Jalan Jend Sudirman Sungai Daeng Mentok yang dilakukan selama ini masih banyak kekurangan. Hal ini diperkuat dengan banyaknya pertanyaan dari pengunjung museum terkait cat bangunan yang kurang sedap dipandang mata, hingga terlihat genangan air di beberapa pojok ruangan.

“Di tahun 2014 Jambi melakukan pemugaran (Museum) yang keempat kali, dimana dananya mencapai Rp 1,1 milyar,”tambah dia.

Sementara itu, Koordinator Pengurus Museum, Alfian yang juga putra daerah Mentok, mengatakan bahwa bangunan cagar budaya memiliki nilai sejarah tinggi ini harus tetap dipertahankan keasliannya, seperti sedia kala.

“Bangunan cagar budaya tingkat nasional inikan memiliki nilai adi luhung yang tinggi jadi kami sebagai salah satu putra Mentok yang juga merasa memiliki sejarah bangsa, kita inginnya gedung ini utuh kembali seperti aslinya, itukan merupakan konsep pelestarian, kita tidak ingin ini dirubah,”papar Alfian.

Alfian mengatakan, sebagai generasi penerus, kita harus sehati dan serius menjaga keutuhan bangunan cagar budaya terlebih berada di peringkat nasional.

“Karena pengunjungnya bukan sembarangan orang daerah saja, banyak peneliti, mahasiswa, para pejabat, saat pengunjung datang, kami sukar untuk mengelak dari pertanyaan misalnya dari arsitektur (bangunan) kami bukan ahlinya tapi kami sedikit paham, ini tidak serupa (dengan yang awal) jadi kami ingin itu dikembalikan (seperti awal),” tegas Alfian.

Dirinya berharap kepada pemerintah baik pusat maupun daerah untuk berkomitmen memiliki jiwa nasional untuk peduli dan memiliki perhatian khusus terhadap bangunan cagar budaya Pasanggrahan.  (Beby)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *