October 2, 2022

Malik Toding: Spirit Saudagar dan Pesan ke Diaspora Asal Sulsel 

Jurnalmetropol.com, Den Haag – Malik Toding, 43 tahun, seorang diaspora asal Sulawesi Selatan, sudah 20 tahun di kota Den Haag, awalnya dia ke Belanda sebagai pelayan Panti Jompo. Tapi, karena jiwa saudagarnya, ditopang oleh spirit ingin maju dan berhasil melalui kerja keras, ia kini sudah memiliki tiga restoran besar di pusat kota Den Haag dan puluhan karyawan. Malik masuk pengurus di Badan Pengurus Luar Negeri Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPLN KKSS) Eropa, yang diketuai oleh Ibu Nena Doligez.

Spirit kerja keras yang dimiliki oleh Malik Toding adalah di samping sebagai pemilik restoran, juga sering berperan sebagai pelayan restorannya.

Dari awal buka restoran hingga sekarang ini bersama istrinya sering mengerjakan pekerjaan karyawan, misalnya lap meja, cuci piring, dan mengatur bahan baku yang loading.

“Peran saya tidak perlu menonjol sebagai pemilik atau bos restorannya. Saya punya dua pengalaman menarik dan lucu. Pertama, suatu hari ada rombongan orang Jerman masuk makan di restorannya. Ketika mereka mau pulang, dia tanya saya, pakai bahasa Inggris, “where is your boss? We want to pay. Saya bingung, jawabnya. Saya jawab, “my boss is in the kitchen.” Pada kesempatan lain, seorang sopir drop atau loading bahan baku, sayur-sayuran. Dia tanya saya yang memang lagi mengatur posisi isi Gudang bahan baku. Pertanyaannya, sama orang Jerman, dia cari bos atau pemilik restoran saya. Saya jawab, “saya adalah pemilik restoran ini.” Ternyata dia tidak percaya karena melihat pakaian saya, sederhana. Tapi belakangan, ketika dia datang loading bahan baku lagi, dia langsung hormat ke saya, mungkin setelah dia tanya dan dapat jawaban dari bos dia, tempat saya memesan bahan baku. Sekali lagi, itu tidak masalah bagi saya, jika saya harus memerankan dua tugas, sebagai pemilik dan karyawan. Itu komitmen saya melayani pelanggan sebaik mungkin,”kata Malik dalam obrolannya kepada tim jurnalmetropol.com, pada Rabu lalu (10/8/22).

Ketika Malik Toding ditanya, apa harapan pada sesama perantau atau diaspora Indonesia, khususnya asal Sulawesi Selatan? Dia menjawab bahwa: Kita ini sebenarnya sama dengan perantau asal negara lain, misalnya dari Turkiye, Maroko, atau Cina. Kita juga bisa maju asalkan memiliki komitmen untuk maju dan bekerja keras, selalu utamakan kejujuran dan melayani pelanggan sebaik mungkin. Saya sering berpesan ke karyawan saya, yang umumnya anak-anak mahasiswa Indonesia yang sekolah di Belanda, tidak punya beasiswa dari pemerintah Indonesia.

“Ini makanan enak dan lebih enak lagi jika disajikan ke pelanggan dengan senyum lebar dan ramah. Pelanggan pasti senang dan ingin kembali lagi ke restoran kita,”paparnya.

Terakhir, ketika kami tanya, apa harapan Malik Toding ke depan? Dia menjawab dan mohon doa restu agar impiannya melebarkan sayap bisnisnya, di samping restoran, kelontong atau toko sembako, juga sedang mengincar bisnis properti di Den Haag, Belanda.

“Saya melihat lahan bisnis properti ini sangat potensial dan belum banyak digarap oleh diaspora Indonesia. Padahal orang Indonesia setiap saat datang ke saya mencari dan mohon dibantu untuk mendapatkan kamar atau rumah kontrakan. Bahkan sebagian anak-anak mahasiswa Indonesia, telat berangkat dari Indonesia ke Belanda karena belum jelas kamar kontrakan (apartemen) yang mau dituju,”jelasnya.

Sebagai sesama diaspora Indonesia dan sama-sama dari Sulawesi Selatan, kami mengagumi spirit dan jejak langkah berani Malik Toding, perantau yang memiliki keberanian untuk buka usaha, pekerja keras, dan memiliki impian besar untuk menjadi saudagar sukses di tanah rantaunya, Den Haag, Belanda.

(M. Saleh Mude)

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *